SAMARINDA, diskresi.co – Anggota DPRD Kalimantan Timur, Nurhadi Saputra, menyoroti kondisi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta kabut asap yang terjadi di Balikpapan. Ia menilai, sebagian asap yang menyelimuti Kota Minyak diduga berasal dari kebakaran lahan di wilayah sekitar, terutama Kutai Kartanegara (Kukar).
Menurut Nurhadi, Balikpapan bukan daerah yang didominasi kawasan hutan. Meski demikian, potensi kebakaran tetap ada, khususnya pada semak belukar dan lahan kosong yang mengering akibat kemarau.
“Kalau kebakaran di Balikpapan memang ada, terutama pada semak-semak atau lahan kosong. Tetapi untuk asap yang kami rasakan, cukup banyak yang merupakan kiriman dari daerah sekitar, terutama Kutai Kartanegara,” ujarnya, Senin (14/9/26).
Ia mengaku beberapa kali menemukan indikasi kebakaran saat melakukan perjalanan antara Balikpapan dan Samarinda. Di sepanjang kawasan yang terlihat dari Jalan Tol Balikpapan-Samarinda, menurut dia, terdapat sejumlah titik maupun bekas lahan terbakar.
“Saya beberapa kali bolak-balik Balikpapan-Samarinda. Sepanjang perjalanan melalui tol, memang terlihat cukup banyak kebakaran ataupun bekas lahan yang terbakar. Jadi, asap yang sampai ke Balikpapan kemungkinan tidak seluruhnya berasal dari dalam kota,” katanya.
Nurhadi mengatakan, pada periode awal meningkatnya kejadian karhutla, kualitas udara di sejumlah daerah juga sempat memburuk. Kondisi tersebut memperkuat dugaan adanya pergerakan asap antardaerah.
Meski begitu, ia tidak menampik kebakaran lahan masih terjadi di Balikpapan. Salah satunya terjadi di wilayah Balikpapan Timur. Menurutnya, Balikpapan Timur dan Balikpapan Utara merupakan dua kecamatan yang masih memiliki cukup banyak kawasan terbuka, semak dan vegetasi.
Namun, lahan yang terbakar tersebut tidak seluruhnya dapat dikategorikan sebagai hutan.
“Lebih banyak berupa rumput dan semak di lahan kosong. Sekarang kondisinya sangat kering sehingga sangat mudah terbakar. Puntung rokok saja kalau dibuang sembarangan bisa berpotensi memicu kebakaran,” jelasnya.
Nurhadi juga menilai kebakaran lahan di Balikpapan tidak berkaitan dengan aktivitas pembukaan lahan untuk perkebunan kelapa sawit. Sebab, menurutnya, perkebunan sawit relatif sulit ditemukan di wilayah Balikpapan dan peruntukan lahannya juga berbeda.
Ia mengatakan, sejumlah kejadian kebakaran justru dapat dipicu aktivitas masyarakat, seperti membakar sampah yang kemudian merembet ke semak atau lahan kering di sekitarnya.
“Pernah ada warga yang membakar sampah, kemudian apinya merembet ke mana-mana. Tetapi kejadian tersebut bisa ditangani. Jadi untuk Balikpapan sejauh ini masih relatif aman,” katanya.
Di sisi lain, Nurhadi mengapresiasi kesiapsiagaan Pemerintah Kota Balikpapan dalam menghadapi ancaman kebakaran. Pemerintah dinilai cukup aktif membuka saluran pengaduan dan nomor layanan darurat yang dapat dihubungi masyarakat ketika menemukan kebakaran di sekitar permukiman.
“Respons pemerintah dalam menangani kejadian kebakaran sejauh ini cukup baik. Masyarakat juga sudah diberikan akses nomor-nomor penting agar bisa segera melapor ketika terjadi kebakaran di sekitar tempat tinggalnya,” ungkapnya. (yud)



















