TANJUNG SELOR – Persaingan untuk masuk SMA Unggul Garuda pada tahun ajaran 2026/2027 berlangsung sangat kompetitif. Dari sekitar 200 pelajar asal Kalimantan Utara (Kaltara) yang mengikuti proses seleksi, hanya 12 orang yang berhasil dinyatakan lolos.
Sekretaris Provinsi (Sekprov) Kaltara, Denny Harianto, mengatakan ketatnya proses seleksi menunjukkan bahwa penerimaan peserta didik dilakukan secara objektif dan sepenuhnya berbasis sistem.
“Proses seleksi untuk masuk SMA Unggul Garuda memang sangat ketat,” ujar Denny kepada Radar Tarakan saat ditemui di Tanjung Selor beberapa waktu lalu.
Ia mengungkapkan, Pemerintah Provinsi Kaltara telah berupaya mendorong agar putra-putri terbaik daerah dapat diterima di sekolah tersebut. Namun, seluruh peserta tetap harus mengikuti mekanisme seleksi yang berlaku sehingga hanya 12 siswa yang akhirnya lolos.
Menurut Denny, hasil tersebut perlu disikapi secara positif karena mencerminkan kompetisi yang sehat dalam dunia pendidikan. Ia menilai proses seleksi yang ketat menjadi bagian dari upaya menghasilkan peserta didik berkualitas sejak tahap awal.
“Proses ini menunjukkan bagaimana kompetisi dimulai sejak tahap penerimaan. Seleksinya memang berlangsung secara ketat sehingga hanya peserta yang memenuhi kriteria yang dapat diterima,” katanya.
Ia menjelaskan, pada awalnya SMA Unggul Garuda di Kaltara direncanakan membuka empat rombongan belajar. Namun, berdasarkan pertimbangan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek), jumlah tersebut untuk sementara ditetapkan menjadi dua kelas.
Dengan kapasitas 40 siswa per kelas, kuota penerimaan tahun pertama berjumlah 80 peserta didik.
“Awalnya direncanakan empat kelas, tetapi untuk tahap awal baru dibuka dua kelas dengan total kuota 80 siswa. Seluruh proses seleksi dilakukan melalui sistem,” jelasnya.
Dari 12 siswa asal Kaltara yang lolos, enam di antaranya untuk sementara ditempatkan di SMA Unggul Garuda Kaltara, sedangkan enam lainnya tersebar di sejumlah daerah, seperti Bengkulu, Sulawesi, dan Nusa Tenggara Timur (NTT).
Meski demikian, Denny mengaku masih berupaya agar seluruh peserta didik asal Kaltara dapat menempuh pendidikan di SMA Unggul Garuda yang berada di daerahnya sendiri.
“Saya masih mengupayakan agar ke-12 siswa asal Kaltara tersebut dapat bersekolah di SMA Unggul Garuda yang ada di Kaltara,” ujarnya.
Ia menambahkan, pembangunan SMA Unggul Garuda di Kalimantan Utara menjadi tonggak penting bagi dunia pendidikan daerah. Pasalnya, Kaltara termasuk salah satu dari empat provinsi di Indonesia yang dipercaya menjadi lokasi pembangunan sekolah unggulan tersebut.
Menurut Denny, SMA Unggul Garuda Kaltara dibangun di kawasan Tanjung Selor, Kabupaten Bulungan, tepatnya di belakang Gedung DPRD Kaltara. Keberadaan sekolah itu diharapkan dapat menjadi pusat lahirnya sumber daya manusia unggul yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun internasional. (fad)

