SAMARINDA, diskresi.co – Peringatan Hari Santri Nasional 2026 menjadi momentum bagi kalangan santri dan Nahdlatul Ulama (NU) agar memperkuat persatuan sekaligus mengambil peran nyata dalam menghadapi berbagai persoalan bangsa, mulai dari kemiskinan, rendahnya kualitas pendidikan, korupsi hingga kerusakan lingkungan.
Pesan tersebut disampaikan Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), KH Abdul Hakim Mahfudz, melalui sambutan yang dibacakan Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Kalimantan Timur, HM Fauzi A. Bahtar.
Sambutan itu disampaikan dalam kegiatan rutin Lailatul Ijtima’ yang dirangkai dengan peringatan Hari Santri 2026 di Gedung PWNU Kaltim, Jalan Imam Bonjol, Samarinda, Rabu (21/10/26) malam.
Dalam sambutannya, Abdul Hakim Mahfudz menegaskan, semangat perjuangan para ulama dan santri dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia harus terus diwariskan kepada generasi penerus.
Namun, menurutnya, perjuangan santri pada masa sekarang tidak lagi dilakukan dengan mengangkat senjata sebagaimana pada masa revolusi kemerdekaan, melainkan melalui kontribusi pemikiran dan tindakan nyata untuk menyelesaikan persoalan masyarakat.
“Semangat Resolusi Jihad masih relevan dan perlu terus kita hidupkan. Bukan melalui bambu runcing dan mengangkat senjata, melainkan melalui pemikiran dan gerakan,” demikian kutipan sambutan Ketua Umum PBNU yang dibacakan Fauzi.
Ia menjelaskan, tantangan bangsa setelah lebih dari delapan dekade merdeka masih cukup kompleks. Karena itu, NU bersama seluruh elemen masyarakat diharapkan mampu berkontribusi dalam mengatasi kemiskinan, kebodohan, praktik korupsi, serta kerusakan hutan dan lingkungan.
Pada kesempatan tersebut, Abdul Hakim juga mengingatkan kembali sejarah Resolusi Jihad yang dicetuskan para ulama NU pada 22 Oktober 1945.
Resolusi yang dipelopori Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari itu menjadi salah satu tonggak penting dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan Indonesia dari ancaman kembalinya penjajahan.
Menurutnya, semangat persatuan antara ulama, santri dan masyarakat saat itu menjadi kekuatan besar dalam menghadapi pasukan Sekutu yang memiliki persenjataan jauh lebih lengkap.
Nilai perjuangan tersebut dinilai tetap relevan untuk menghadapi berbagai tantangan bangsa pada masa sekarang.
Dirinya menekankan, persatuan merupakan modal utama dalam membangun kehidupan bermasyarakat, berorganisasi, dan bernegara.
Dengan persatuan yang kuat, kerja sama antara pemerintah, masyarakat dan berbagai elemen bangsa diharapkan mampu mempercepat terwujudnya kesejahteraan dan keadilan sosial.
Selain mengingatkan sejarah perjuangan kemerdekaan, ia juga menyoroti pentingnya mempertahankan nilai-nilai tradisi dan spiritualitas di tengah perubahan zaman yang berlangsung semakin cepat.
Menurutnya, NU memiliki akar budaya dan tradisi keagamaan yang kuat sehingga mampu menjadi penghubung antara nilai-nilai tradisional dan perkembangan kehidupan modern.
Keduanya tidak harus dipertentangkan, tetapi dapat berjalan beriringan untuk membangun masyarakat yang berkemajuan tanpa kehilangan identitas dan jati dirinya.
Ia juga mengingatkan bahwa penetapan 22 Oktober sebagai Hari Santri melalui Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 merupakan bentuk penghargaan negara terhadap perjuangan para kiai, santri dan pesantren dalam merebut serta mempertahankan kemerdekaan.
Meski demikian, pengakuan tersebut diharapkan tidak berhenti pada kegiatan seremonial tahunan. Kalangan pesantren dan santri didorong terus meningkatkan kontribusinya dalam pembangunan bangsa.
Peringatan Hari Santri 2026 yang mengangkat semangat “Menguatkan Akar Tradisi, Menjaga Keutuhan Negeri” diharapkan mampu memperkokoh persaudaraan sekaligus memperkuat komitmen NU dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Melalui momentum tersebut, seluruh warga NU diajak terus merawat nilai-nilai keagamaan, kebangsaan dan persatuan sebagai landasan menghadapi tantangan masa depan. (yud)











