KUTIM, diskresi.co – Program Adiwiyata di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) terus diarahkan untuk membentuk kebiasaan peduli lingkungan di kalangan warga sekolah. Pada 2026, sebanyak 30 sekolah tercatat mengikuti program tersebut dengan tahapan pembinaan dan penilaian pada tingkatan berbeda.
Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim, Nurrahmi Asmalia, mengatakan Adiwiyata menjadi bagian dari pembinaan sekolah agar kepedulian terhadap lingkungan dapat diterapkan dalam aktivitas pendidikan sehari-hari.
“Tahun 2026 ada 14 sekolah diusulkan sebagai Sekolah Adiwiyata tingkat kabupaten. Kemudian untuk tingkat nasional ada lima sekolah sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Mandiri dan sebelas sekolah sebagai Calon Sekolah Adiwiyata Nasional,” kata Nurrahmi, Kamis (1/10/26).
Dari 17 sekolah yang masuk dalam usulan tingkat nasional tersebut, sebanyak 11 sekolah telah melalui proses verifikasi dan dinyatakan memenuhi persyaratan untuk mengikuti penilaian. Hasil akhir penilaian dari kementerian masih dalam tahap menunggu.
Pembinaan Adiwiyata tidak hanya berfokus pada kondisi fisik sekolah. Sejumlah aspek lingkungan turut menjadi bagian penilaian, di antaranya pengelolaan sampah, kebersihan, perlindungan keanekaragaman hayati, serta upaya mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim.
Menurut Nurrahmi, setiap tingkatan Adiwiyata memiliki standar dan rentang nilai tersendiri. Penilaian juga dilakukan secara terpusat melalui sistem aplikasi yang telah ditetapkan.
Mekanisme tersebut mengikuti pembagian kewenangan antara pemerintah daerah dan pusat. Jika sebelumnya proses penilaian dilakukan secara berjenjang dari kabupaten, provinsi hingga nasional, kini masing-masing tingkatan memiliki kewenangan sesuai ketentuan yang berlaku.
“Sekarang sudah terbagi berdasarkan kewenangan. Jadi dari daerah bisa melalui tingkat kabupaten dan kemudian bila nilainya mencukupi bisa langsung ke tingkat nasional,” jelasnya.
Melalui program tersebut, sekolah didorong tidak hanya menjaga lingkungan saat menghadapi penilaian Adiwiyata. Kepedulian terhadap lingkungan diharapkan menjadi bagian dari kegiatan pendidikan serta kebiasaan seluruh warga sekolah.
Nurrahmi menyebut DLH Kutim akan terus mendorong keterlibatan sekolah agar penerapan budaya lingkungan dapat berkembang secara berkelanjutan.
“Melalui pembinaan tersebut, DLH Kutim terus mendorong sekolah mengembangkan lingkungan pendidikan yang bersih, sehat, serta memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan lingkungan,” tandasnya. (adv/Diskominfo/ar)











