KUTIM, diskresi.co – Upaya menghadapi dampak perubahan iklim di Kabupaten Kutai Timur (Kutim) akan diperluas melalui pengembangan Program Kampung Iklim (ProKlim). Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kutim menargetkan program tersebut dapat menjangkau 130 desa.
Program ini diarahkan untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat dalam menjalankan aksi mitigasi dan adaptasi perubahan iklim secara langsung di lingkungan tempat tinggal.
Kepala Bidang Penaatan dan Peningkatan Kapasitas Lingkungan Hidup DLH Kutim, Nurrahmi Asmalia, mengatakan pelaksanaan ProKlim dapat dimulai dari wilayah paling dasar, yakni dusun. Masyarakat di dalamnya kemudian didorong untuk terlibat dalam berbagai kegiatan lingkungan.
“Untuk Program Kampung Iklim, tingkatan paling rendahnya adalah dusun. Di sana masyarakat didorong untuk melakukan mitigasi dan adaptasi terhadap perubahan iklim,” ujar Nurrahmi, Kamis (01/10/26).
Menurutnya, pelaksanaan ProKlim membutuhkan peran berbagai unsur masyarakat, bukan hanya kelompok tertentu. Setiap elemen dapat berkontribusi sesuai dengan kondisi dan kebutuhan lingkungan masing-masing.
Salah satu kelompok yang dapat dilibatkan adalah masyarakat peduli api. Keberadaan kelompok tersebut dapat membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat sekaligus mendukung kepedulian terhadap kondisi lingkungan.
Aspek pengelolaan sampah juga menjadi bagian dalam pembinaan ProKlim. Masyarakat didorong untuk menjaga lingkungan sekaligus menerapkan langkah-langkah yang dapat memperkuat ketahanan wilayah menghadapi perubahan iklim.
Nurrahmi menilai cakupan kegiatan ProKlim cukup luas lantaran pelaksanaannya bersentuhan langsung dengan kehidupan masyarakat. Karena itu, keberhasilan pembentukan Kampung Iklim membutuhkan gerakan bersama hingga tingkat desa dan dusun.
“Jadi seluruh komponen yang ada di dusun tersebut bergerak bersama-sama,” katanya.
DLH Kutim saat ini menargetkan 130 desa masuk dalam pengembangan ProKlim. Meski demikian, perluasan pembentukan program tersebut secara lebih luas kemungkinan baru mulai direncanakan pada tahun mendatang.
Target itu menjadi bagian dari upaya memperluas gerakan lingkungan berbasis masyarakat. Melalui pendekatan kewilayahan, aksi menghadapi perubahan iklim diharapkan tidak hanya bergantung pada program pemerintah, tetapi menjadi bagian dari aktivitas masyarakat sehari-hari.
“Melalui ProKlim, DLH Kutim mendorong masyarakat membangun kebiasaan yang mendukung lingkungan sekaligus meningkatkan kesiapan menghadapi berbagai dampak perubahan iklim,” tandasnya. (adv/diskominfo/ar)











