KUTIM, diskresi.co – Sekolah Tinggi Pertanian (STIPER) Kutai Timur berencana membuka program pendidikan vokasi Diploma Satu (D1) selama satu tahun melalui kerja sama dengan Institut Pertanian Stiper (INSTIPER) Yogyakarta. Program ini ditujukan untuk menyiapkan tenaga kerja terampil yang sesuai dengan kebutuhan industri perkebunan kelapa sawit.
Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, mengatakan kerja sama tersebut direncanakan mulai berjalan pada 2027. Kehadiran program ini menjadi salah satu upaya memperkuat pendidikan berbasis keterampilan sekaligus memperluas akses masyarakat lokal terhadap pekerjaan di sektor perkebunan.
“Insyaallah tahun depan STIPER dan INSTIPER Jogja sudah melakukan kerja sama,” ujar Ardiansyah, Jumat (9/10/26).
Ia menjelaskan, tenaga kerja terlatih yang menduduki jabatan tertentu di perkebunan kelapa sawit selama ini banyak berasal dari perguruan tinggi lain. Melalui program vokasi tersebut, pemuda Kutim dapat memperoleh bekal kompetensi yang relevan dengan kebutuhan lapangan kerja.
“Kita ingin anak-anak muda Kutai Timur memiliki kompetensi, memiliki kesempatan, dan memiliki masa depan di daerahnya sendiri,” katanya.
Di sisi lain, keterbatasan tempat tinggal menjadi salah satu kendala bagi masyarakat dari luar Sangatta yang ingin melanjutkan pendidikan. Untuk mendukung akses tersebut, Kutim telah memiliki asrama di dekat kampus STIPER yang merupakan sumbangan PT Kaltim Prima Coal (KPC).
Ardiansyah menilai peningkatan keterampilan tenaga kerja lokal perlu berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi daerah. Keterlibatan masyarakat dalam kegiatan ekonomi menjadi bagian penting agar manfaat pembangunan dapat dirasakan secara lebih luas.
“Keterampilan tenaga kerja harus terus ditingkatkan agar masyarakat Kutai Timur tidak hanya menjadi penonton dari pertumbuhan ekonomi daerah, tetapi menjadi pelaku utama pembangunan,” tegasnya.
Sejalan dengan itu, arah pembangunan Kutim pada 2026–2027 mencakup peningkatan Indeks Pembangunan Manusia (IPM), penguatan pertumbuhan ekonomi, serta penurunan kemiskinan, pengangguran, dan kesenjangan.
“Pertumbuhan ekonomi harus menciptakan lapangan kerja. Lapangan kerja harus meningkatkan pendapatan masyarakat,” ungkap Ardiansyah.
Menurutnya, keberhasilan pembangunan tidak hanya dilihat dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari peningkatan pendapatan dan kualitas hidup masyarakat.
“Karena itu, penciptaan lapangan kerja, pemerataan pembangunan, dan pengurangan kemiskinan menjadi bagian yang saling berkaitan dalam mencapai kesejahteraan warga Kutim,” tandasnya.(adv/diskominfo/ar)











