KUTIM, diskresi.co – Perkembangan artificial intelligence (AI) mendorong Dinas Komunikasi, Informatika, Statistik dan Persandian (Diskominfo Staper) Kabupaten Kutai Timur (Kutim) menyiapkan materi pembelajaran yang dapat membantu masyarakat memahami sekaligus menggunakan teknologi tersebut secara tepat.
Materi mengenai AI direncanakan menjadi bagian dari modul literasi digital yang dikembangkan Diskominfo Staper Kutim. Pembelajaran itu nantinya dapat diakses melalui Learning Management System (LMS) atau platform akademi yang sedang disiapkan.
Kepala Diskominfo Staper Kutim, Ronny Bonar H. Siburian, mengatakan edukasi mengenai AI diperlukan seiring teknologi tersebut semakin dekat dengan berbagai aktivitas masyarakat.
Menurutnya, masyarakat tidak cukup hanya mengenal AI, tetapi juga perlu memahami pemanfaatannya agar teknologi digunakan untuk kebutuhan yang positif.
“AI itu menurut saya juga tidak jelek. Pemanfaatannya tergantung bagaimana kita memanfaatkannya. Kalau digunakan untuk yang positif, pasti akan positif,” kata Ronny saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (29/9/26).
Ia menjelaskan, materi edukasi tersebut disusun sebagai bagian dari pengembangan literasi digital yang lebih menyesuaikan perkembangan teknologi. Literasi digital tidak hanya menyangkut kemampuan menggunakan perangkat atau aplikasi, tetapi juga pemahaman terhadap teknologi baru yang terus berkembang.
Karena itu, penyusunan modul AI dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kompetensi pihak yang terlibat. Diskominfo Staper juga membuka ruang kolaborasi dengan perangkat daerah maupun pihak lain yang memiliki kemampuan di bidang tersebut.
“Kami sedang menggandeng BKPSD. Mungkin ke depannya dalam AI kita coba libatkan untuk bisa membuatkan modul-modul itu. Tetapi itu jangka panjang, harus bertahap,” ujarnya.
Rencana tersebut menjadi bagian dari pengembangan LMS yang sebelumnya disiapkan Diskominfo Staper untuk memperluas akses pembelajaran. Melalui platform tersebut, materi yang telah disusun dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran tanpa harus selalu bergantung pada pelatihan secara tatap muka.
Pengembangan edukasi AI juga diarahkan agar dapat berjalan menyesuaikan kondisi anggaran. Diskominfo Staper berupaya menggunakan sumber daya yang sudah tersedia, termasuk teknologi open source dan subdomain yang dimiliki.
Ronny mengatakan kondisi efisiensi anggaran tidak harus menghentikan pengembangan inovasi di bidang literasi digital. Sebaliknya, keterbatasan tersebut menjadi pertimbangan untuk mencari pola pembelajaran yang dapat dikembangkan dengan memanfaatkan teknologi yang tersedia.
“Efisiensi itu bukan menghambat kita untuk melakukan sebuah perubahan. Kami mencoba membuat sebuah inovasi, sebuah perubahan dengan kondisi yang ada sekarang,” tandasnya.(adv/diskominfo/ar)











