SAMARINDA, diskresi.co – Ancaman kemarau berkepanjangan menjadi perhatian Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur terhadap keberlangsungan sektor peternakan. Peternak diminta mulai mengantisipasi berkurangnya ketersediaan pakan hijauan dan sumber air yang dapat berdampak terhadap kondisi ternak.
Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim mendorong langkah mitigasi dilakukan lebih awal, terutama bagi peternak ruminansia seperti sapi, kambing dan domba. Ketersediaan pakan dan air dinilai menjadi faktor utama dalam mempertahankan kesehatan serta produktivitas ternak selama musim kering.
Kepala DPKH Kaltim, Arief Murdiyatno, mengatakan dampak kemarau terhadap sektor peternakan tidak hanya berkaitan dengan berkurangnya sumber air. Produksi dan kualitas hijauan sebagai pakan utama ternak juga berpotensi mengalami penurunan.
“Kondisi kekeringan bisa membuat produksi hijauan segar turun cukup signifikan. Rumput di kawasan penggembalaan menjadi lebih kering dan berserat tinggi, sementara nilai nutrisinya ikut menurun,” ujarnya, Rabu (9/9/26).
Situasi tersebut berpotensi semakin berat apabila musim kemarau berlangsung dalam waktu lama. Debit air pada sumur, sungai maupun embung dapat mengalami penurunan sehingga peternak semakin sulit memenuhi kebutuhan air minum ternak.
Menurutnya, kekurangan pakan berkualitas yang dibarengi keterbatasan air dapat memengaruhi kondisi fisik ternak. Dampaknya bisa berupa penurunan bobot badan dan produksi susu hingga memicu stres maupun gangguan kesehatan.
Agar mengurangi risiko tersebut, DPKH Kaltim meminta peternak tidak menunggu hingga persediaan hijauan menipis. Cadangan pakan perlu disiapkan sejak dini agar kebutuhan ternak tetap terpenuhi ketika memasuki puncak musim kemarau.
Pakan cadangan dapat disiapkan dalam bentuk silase, hay atau pakan fermentasi yang memiliki daya simpan lebih lama dibandingkan hijauan segar.
Alternatif lainnya adalah memanfaatkan limbah hasil pertanian sebagai sumber pakan. Namun, penggunaannya tetap harus memperhatikan aspek keamanan dan kecukupan nutrisi agar tidak menimbulkan persoalan baru terhadap kesehatan ternak.
Peternak juga dianjurkan mulai mengembangkan tanaman hijauan pakan yang memiliki kemampuan adaptasi lebih baik terhadap kondisi kering. Langkah tersebut diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap jenis hijauan yang rentan mengalami penurunan produksi saat kemarau.
Antisipasi serupa diperlukan untuk kebutuhan air. DPKH mendorong peternak menyediakan tempat penyimpanan air, baik berupa tandon, embung maupun kolam penampungan. Cadangan tersebut dapat digunakan ketika sumber air utama mengalami penurunan debit.
Selain memastikan persediaan, kondisi ternak juga perlu diawasi secara berkala selama periode kemarau.
“Peternak perlu rutin mengecek kondisi fisik ternaknya sekaligus memastikan persediaan pakan dan air tetap mencukupi. Jika terlihat ada penurunan kondisi, penanganan bisa dilakukan lebih cepat,” ungkapnya.
Ia menilai kesiapsiagaan sejak awal menjadi salah satu kunci agar perubahan cuaca tidak memberikan dampak terlalu besar terhadap usaha peternakan di Kalimantan Timur.
“Hal utama yang perlu diperkuat adalah kesiapan peternak. Jika mitigasi dilakukan sejak awal, kesehatan dan produktivitas ternak tetap dapat dijaga meskipun kondisi cuaca semakin sulit diprediksi,” pungkasnya. (yud)





















