SAMARINDA, diskresi.co – Perubahan kebijakan pemerintah, meningkatnya persaingan industri kesehatan, serta tingginya biaya operasional menjadi tantangan yang harus dihadapi pengelola rumah sakit swasta. Kondisi tersebut menuntut manajemen rumah sakit untuk terus berinovasi agar mampu mempertahankan kualitas pelayanan sekaligus menjaga keberlanjutan usaha. Kamis (5/11/26).
Merespons tantangan tersebut, Rumah Sakit (RS) Primecare Samarinda berkolaborasi dengan Asosiasi Rumah Sakit Swasta Indonesia (ARSSI) Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara (Kaltimtara) menggelar webinar nasional bertajuk Bisnis Rumah Sakit di Era VUCA pada Sabtu (7/11/26) mendatang.
Kegiatan ini dirancang sebagai wadah diskusi bagi para pengelola rumah sakit untuk memperkuat strategi bisnis, memahami perkembangan regulasi, serta meningkatkan kemampuan beradaptasi di tengah dinamika sektor pelayanan kesehatan.
Ketua ARSSI Kaltimtara, dr. Dina Lailani, MRS, FISQua, mengatakan perubahan yang terjadi dalam industri rumah sakit tidak seharusnya dipandang sebagai hambatan semata. Sebaliknya, kondisi tersebut perlu menjadi momentum bagi manajemen agar melakukan evaluasi dan mencari peluang pengembangan layanan.
Menurutnya, keberhasilan pengelolaan rumah sakit sangat bergantung pada kemampuan manajemen dalam membaca situasi, menentukan langkah strategis, serta mengambil keputusan secara tepat.
“Rumah sakit tidak bisa terus-menerus menyalahkan kondisi yang ada. Kita harus mampu memahami perkembangan informasi, menangkap peluang, dan menyiapkan strategi yang sesuai dengan tantangan yang dihadapi,” ujar Dina.
Ia menjelaskan, tantangan rumah sakit saat ini tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan ketentuan pemerintah, tetapi juga bagaimana mempertahankan daya saing tanpa mengesampingkan standar pelayanan kepada masyarakat.
Karena itu, dibutuhkan kepemimpinan yang adaptif dan memiliki ketahanan agar menghadapi berbagai perubahan, termasuk tekanan finansial maupun tuntutan peningkatan kualitas layanan kesehatan.
Pada webinar tersebut, panitia menghadirkan empat pembicara yang memiliki pengalaman dan kompetensi di bidang manajemen, regulasi, serta pelayanan rumah sakit.
Ketua ARSSI Pusat, DR. drg. Iing Hanafi, MARS, MH, dijadwalkan mengupas perkembangan regulasi menuju 2027 yang perlu menjadi perhatian pengelola rumah sakit.
Sementara itu, konsultan perumahsakitan Dr. dr. Fathema Djan, Sp.BTKV(K), MPH, akan menyampaikan strategi pengembangan bisnis yang adaptif agar rumah sakit mampu mempertahankan pertumbuhan di tengah ketidakpastian.
Pembahasan mengenai arah 24 kompetensi layanan rumah sakit akan disampaikan Direktur Pelayanan Klinis Kementerian Kesehatan RI, Dr. Obrin Parulian, M.Kes.
Adapun Direktur RS Hermina Samarinda, Dr. Gati Kusumo Budiari, MPH, akan membagikan pengalaman dan perspektif terkait pengelolaan rumah sakit.
Dina berharap berbagai materi yang disampaikan dapat memberikan gambaran kepada manajemen rumah sakit dalam menyusun kebijakan internal, meningkatkan efisiensi, serta mempersiapkan diri menghadapi ketentuan pemerintah pada masa mendatang.
Ia juga menekankan pentingnya penerapan konsep agile leadership atau kepemimpinan yang tangkas dalam mengelola organisasi rumah sakit.
Melalui pendekatan tersebut, manajemen diharapkan lebih responsif terhadap kebutuhan pasien, mampu mengurangi keluhan pelayanan, serta menciptakan inovasi yang memberikan nilai tambah bagi masyarakat.
“Persaingan dan tuntutan regulasi tentu menjadi tantangan tersendiri. Karena itu, pengelola rumah sakit harus memiliki ketahanan, terus berinovasi, dan mencari terobosan agar pelayanan tetap optimal sekaligus membuka peluang pertumbuhan,” jelasnya.
Sementara itu, Direktur RS Primecare Samarinda, dr. Boy E.R. Wajong, MKes, MQM, CRP, CMT, menilai pembahasan mengenai strategi bisnis rumah sakit menjadi semakin penting seiring meningkatnya tuntutan efisiensi dalam pengelolaan fasilitas kesehatan.
Menurut Boy, kemampuan mengendalikan biaya operasional harus diimbangi dengan komitmen mempertahankan mutu pelayanan dan keselamatan pasien.
“Efisiensi memang menjadi kebutuhan dalam operasional rumah sakit. Namun, upaya tersebut tidak boleh mengorbankan kualitas pelayanan dan keselamatan pasien yang harus tetap menjadi prioritas,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, RS Primecare Samarinda terus melakukan pengembangan fasilitas dan layanan medis agar menjawab kebutuhan masyarakat terhadap pelayanan kesehatan yang semakin modern.
Salah satu fokus pengembangan diarahkan pada tindakan medis minimal invasif, terutama dalam penanganan penyakit ginjal dan bedah digestif.
Penguatan layanan tersebut dilakukan melalui penyediaan peralatan medis berteknologi terkini serta dukungan tenaga dokter spesialis sesuai bidang keahlian masing-masing.
Tidak hanya itu, RS Primecare Samarinda juga tengah mempersiapkan pengembangan layanan genomic dan molecular yang direncanakan segera diperkenalkan kepada masyarakat.
Kehadiran layanan tersebut diharapkan mampu memperluas akses masyarakat Samarinda dan Kalimantan Timur terhadap pilihan pemeriksaan serta pelayanan kesehatan yang lebih beragam.
Di sisi lain, komitmen peningkatan kualitas pelayanan RS Primecare Samarinda turut ditandai dengan keberhasilan meraih predikat Akreditasi melalui Lembaga Akreditasi Mutu dan Keselamatan Pasien (LAM-KPRS).
Boy menyebut pencapaian tersebut merupakan hasil kerja sama seluruh jajaran rumah sakit dalam memenuhi standar mutu dan keselamatan pasien.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa predikat akreditasi tertinggi tersebut bukanlah tujuan akhir, melainkan menjadi tanggung jawab untuk terus mempertahankan dan meningkatkan kualitas pelayanan.
“Predikat Akreditasi Paripurna menjadi motivasi bagi seluruh keluarga besar RS Primecare. Kami berkomitmen untuk terus menjaga standar pelayanan, meningkatkan mutu, dan memberikan pelayanan kesehatan terbaik kepada masyarakat,” katanya.
Melalui penyelenggaraan webinar nasional bersama ARSSI Kaltimtara, Boy berharap para pengelola rumah sakit swasta memperoleh wawasan dan strategi yang dapat diterapkan dalam menghadapi tantangan industri kesehatan.
Ia juga berharap kolaborasi antarrumah sakit semakin kuat sehingga perkembangan bisnis fasilitas kesehatan dapat berjalan seiring dengan peningkatan kualitas pelayanan bagi masyarakat Kalimantan Timur dan Kalimantan Utara. (yud)











