KUTIM, diskresi.co – Pemerintah Kabupaten Kutai Timur (Kutim) berencana menjadikan Erau Adat Pelas Benua sebagai agenda rutin tahunan untuk memperkuat pelestarian adat dan identitas masyarakat.
Rencana tersebut disampaikan setelah penyelenggaraan perdana secara resmi pada, Minggu (11/10/2026) yang menjadi bagian dari peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-27 Kutim.
Mengusung tema “Adat Lestari, Tuah Benua Etam Berjaya”, Erau Adat Pelas Benua berlangsung pada 9–13 Oktober 2026 di Lapangan Rumah Pore Adat Besar Kutai, Sangatta.
Ketua panitia Erau sekaligus Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Sekretariat Kabupaten Kutim, Trisno, mengatakan penyelenggaraan tersebut berawal dari inisiatif para senior di lingkungan majelis dan pemangku adat yang kemudian diakomodasi pemerintah daerah.
“Ini adalah inisiasi dari senior-senior kita di majelis dan pemangku yang diakomodir oleh pemerintah daerah sehingga ini kolaboratif,” ujar Trisno.
Ia menilai persiapan dan pelaksanaan kegiatan perdana tersebut berjalan baik. Menurutnya, kolaborasi berbagai pihak menjadi modal untuk menjaga keberlanjutan kegiatan adat di Kutim.
“Ini sudah arahan Pak Bupati bahwa ini akan menjadi agenda rutin setiap tahun,” katanya.
Selama lima hari pelaksanaan, rangkaian prosesi adat meliputi ziarah makam almarhum Datuk Sampai bin Lohom, Haul Jamak, Titi Bende, Ngatur Dahar, Beluluh, Merangin, hingga Pelas Benua. Selain itu, masyarakat dapat menyaksikan kirab budaya, pertandingan olahraga tradisional, bazar usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta pertunjukan seni budaya.
Rangkaian kegiatan dijadwalkan berakhir pada Selasa (13/10/2026) melalui prosesi basepak dan Belibur.
Trisno menegaskan, keberlanjutan Erau tidak hanya menjadi tanggung jawab majelis atau lembaga adat, tetapi juga pemerintah daerah.
“Bukan hanya menjadi agenda lembaga atau majelis adat, tetapi menjadi agenda pemerintah daerah Kabupaten Kutai Timur,” tegasnya.
Melalui agenda tahunan tersebut, pemerintah berharap pelestarian tradisi dapat berjalan berkelanjutan.
“Erau juga menjadi ruang untuk memperkuat keterlibatan masyarakat dalam menjaga adat dan mewariskan kebudayaan kepada generasi berikutnya,” tandasnya. (adv/diskominfo/ar)











